Gunung yang sedang tidur itu...
Gunung ini terletak diantara 2 provinsi dan 4 kabupaten. Terletak diantara Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dua kabupaten dari Provinsi Jawa Timur masuk di gunung ini, yaitu Kab. Ngawi dan Kab. Magetan serta dari Provinsi Jawa Tengah ada 2 kabupaten, yaitu Kab. Karanganyar dan Kab. Wonogiri yang ada di kakinya. Yap, ini Gunung Lawu. Gunung yang masih banyak menyimpan banyak misteri. Belum banyak catatan tentang potensi keanekaragaman bio nya. Sebanyak 4 kali Kelompok Studi yang menaungiku mengadakan kegiatan untuk sedikit membelah misteri tersebut, tepatnya dari tahun 2014 hingga tahun 2017 (mungkin akan akan ada ceritanya). Empat arah lereng telah terjamah. Namun tetap saja misteri dari gunung ini belum banyak terkupas. Gunung yang konon menjadi tempat mukso dari Raja Brawijaya V ini memiliki 1 puncak (ya iyalah, namanya puncak cuma 1), Argo Dumilah. Jalur pendakian sahnya ada 3, Jalur pendakian Cemoro Kandang, Jalur Pendakian Cemoro Sewu dan yang terbaru adalah Jalur Pendakian Cetho. Setahuku ada 3 lagi jalur pendakiannya, namun ini jalur pendakian tidak resmi, jadi ya jarang dan tidak ada petugas yang bertanggung jawab bila naik lewat jalur ini. Yang paling sering dilewati adalah jalur pendakian Cemoro Sewu dan Jalur Pendakian Cemoro Kandang. Masing-masing jalur punya cirinya sendiri, bila Jalur Cemoro Sewu cirinya banyak anak tangga dari batu yang telah disiapkan dan jalurnya lebih menanjak, Cemoro Kandang lebih landai sehingga jalurnya lebih panjang dan terdapat kawah Condrodimuko yang masih aktif. Sedangkan Cetho khasnya jalur ini melewati hutan heterogen yang rapat dan padang savana.
Gunung ini dari segi topografi sangat istimewa, karena gunung ini memisahkan iklim pulau Jawa bagian barat dan Jawa bagian timur. Jawa bagian barat cenderung basah sedangkan timur sebaliknya. Sehingga di gunung ini akan ditemui pengisi vegetasi hutan Jawa bagian barat dan hutan Jawa bagian timur. Dari pengalaman inyong, emang bener sih, di lereng timur gunung ini lebih kering dan lereng bagian barat lebih basah.
Pada tahun 2000 an, beberapa dosen Universitas Sebelas Maret mengusulkan untuk menetapkan gunung ini menjadi kawasan konservasi, Taman Nasional. Pada tahun-tahun tersebut banyak publikasi dosen UNS tentang sedikit alasan kenapa gunung ini layak menjadi kawasan konservasi. Namun karena banyak alasan keinginan dari beberapa dosen UNS ini tidak terealisasi. Kawasan hutan gunung ini diserahkan kepada PERHUTANI. Menurut hemat inyong, yang dikit banget paham, agak sayang bila kawasan hutan ini tidak terjaga dengan baik. Banyak hayati yang khas dan sudah rawan akan kepunahan. Bahkan pada beberapa tahun terakhir, akan ada mega proyek pembangunan Pembangkit Listrik Panas Bumi di salah satu titik di gunung ini (tambah ga paham lagi deh). Gunung ini sudah banyak menderita, dari kebakaran hutan, perburuan, daan pipanisasi sumber mata air. Entah kapan gunung purba yang sedang terlelap ini akan bangun. Gunung yang sedang tidur itu suatu waktu pasti bisa bangun, jangan engkau lukai lagi...
Komentar
Posting Komentar