Aku Suka Kamu!


Sebagai mahasiswa level akhir, sudah selayaknya memikirkan topik dan hal yang akan menjadi tulisan akhir. Setelah pemijahan bidang tugas akhir dan dosen pembimbingnya, mulai mencari hal yang inyong minati. Meninjau beberapa cerita dan pengalaman 2 tahun ke belakang serta keikutsertaan inyong di salah satu Kelompok Studi di jurusan (sekarang menjadi Program Studi), inyong tertarik dengan 2 hal, yaitu keanekaragaman dan kultur jaringan. Kebetulan inyong dapet dosen pembimbing legenda yang memiliki rekam jejak yang panjang tentang keanekaragaman dan taksonomi. Beliau memiliki catatan di Kebun Raya Bogor. Bahkan beliau hapal pohon-pohon di KRB. Beliau adalah Bapak Marsusi. Beliau merupakan dosen legenda di jurusan bahkan fakultas. Beliau pernah menjadi dekan FMIPA. Beliau juga menjadi salah satu inisiator berdirinya FMIPA. Inyong menjadi bimbingannya tidak lama, hanya beberapa bulan karena beliau pensiun menjadi dosen di FMIPA (ada sedikit cerita di balik ini). Selama menjadi bimbingan beliau, inyong beberapa kali konsultasi tentang kerangka pemikiran tugas akhir. Sempat sudah nemu tema dan judul yang menjadi proyek salah satu dosen lain yang akhirnya menjadi dosen pembimbingku. Bahkan sempat masuk laboratorium dengan judul ini. Temanya adalah perbanyakan anggrek dengan metode lapis tipis. Ini kali pertama bekerja dengan anggrek. Sebelumnya agak lupa kenapa bisa tertarik dengan anggrek. Seingat inyong, tahun 2013 sudah tertarik dengan flora satu ini. Tidak menyangka tugas akhirku akan berhubungan dengan makhluk satu ini. Inyong bekerja di lab dengan anggrek mulai dari tahun 2014, namun hanya bekerja untuk perbanyakan dan hanya mengenal beberapa jenis anggrek saja, ya karena di lab yang tersedia hanya beberapa jenis saja.
Akhirnya pada tahun 2015, bak gayung bersambut inyong ikut Ekspedisi Wukir Mahendra part II. Ekspedisi ini diadakan kerja sama antara KS Biodiv dan KS Kepak Sayap. Kegiatan ini bertujuan mengeksplorasi biodiversitas dan sos-bud Gunung Lawu, salah satu obyek flora yang dikaji adalah anggrek. Inyong jadi tambah tertarik dengan anggrek dan lebih mengenal spesies anggrek, terutama anggrek alam. Sebenarnya agak telat belajarnya karena sudah mahasiswa level akhir. Terkadang merasa kecewa juga, namun juga terkadang bersyukur bisa belajar anggrek. Inyong sangat bahagia karena bisa belajar dan mengenal anggrek alam, salah satu flora yang terindah ciptaan Tuhan penguasa alam raya ini. Setelah ekspedisi itu, inyong termotivasi untuk membuat database tentang anggrek Lawu yang belum ada. Dari belasan kini sudah puluhan. Selain database, inyong pengen membuat buku diversitas anggrek Lawu. Ini salah satu mimpi inyong.
Hingga saat ini inyong masih menyukaimu, Anggrek.

Komentar